Senin, 12 Januari 2009

Opini

PROSPEK DAN PENGEMBANGAN AGROBISNIS ANGGREK

OPINI


Produktivitas anggrek pada tahun 1989 adalah 2,39 tangkai/per tanaman dan tahun 2000 meningkat menjadi 3,43 tangkai per tanaman. Dibandingkan dengan produktivitas anggrek dari negara tetangga Thailand, rata-rata 10-12 tangkai/per tanaman, produktivitas nasional rata-rata hanya dapat mencapai 3-4 tangkai per tanaman. Bila potensi genetik anggrek dapat dicapai, maka peningkatan produksi secara perhitungan dapat mencapai 2-3 kali lipat produksi yang dicapai saat ini. Proyeksi produksi tahun 2010, produktivitas anggrek diharapkan mencapai 8-10 tangkai pertanaman.

Anggrek dapat dipasarkan dalam bentuk compot (Community Pot), tanaman individu/tanaman remaja, tanaman dewasa dan bunga potong. Pertanaman anggrek dapat dilakukan melalui tahapan (1) Protocorm like bodies sampai menjadi plantlet siap keluar dari botol waktu yang dibutuhkan ± 1 tahun, (2) Compot plantlet menjadi seedling dalam bentuk compot diperlukan waktu ± 6 bulan, (3) compot menjadi seedling dalam bentuk individu dibutuhkan waktu ± 6 bulan, (4) seedling individu menjadi tanaman remaja dibutuhkan waktu ± 6 bulan, dan (5) tanaman remaja menjadi dewasa dan siap berbunga ± 6 bulan. Analisa usahatani untuk luasan 1000 m2, besar biaya untuk usaha compot setelah ditambahkan dengan bunga modal adalah sebesar Rp. 137,9 juta, untuk usaha tanaman individu/remaja sebesar Rp 84,5 juta, untuk usaha tanaman dewasa sebesar Rp 163,1 juta dan untuk industri bunga potong sebesar Rp 162,8 juta. Pada jenis usaha primer, bila dilihat dari sisi penerimaan, didapatkan produk anggrek dalam bentuk tanaman dewasa ádalah yang terbesar yaitu sekitar Rp 216 juta, kemudian diikuti oleh compot (Rp 194,4 juta), bunga potong (Rp 180,1 juta) dan tanaman individu/tanaman remaja (Rp 129,7 juta). R/C ratio yang didapatkan usaha tanaman individu dan remaja lebih menguntungkan dibandingkan produk lainnya, yang ditunjukkan oleh R/C ratio sebesar 1,53. R/C ratio sebesar 1,53 artinya setiap Rp 1,- yang dikeluarkan untuk pengusahaan anggrek dalam bentuk tanaman individu/remaja diperoleh keuntungan sebesar Rp 1,53,-.

Selera konsumen terhadap mutu bunga potong anggrek dipengaruhi dan ditentukan oleh produsen dan trend luar negeri. Pada saat ini anggrek yang dominan disukai masyarakat adalah jenis Dendrobium (34 %), diikuti oleh Oncidium Golden Shower (26 %), Cattleya (20 %) dan Vanda (17 %) serta anggrek lainnya (3 %). Pemilihan warna bunga anggrek yang dikonsumsi banyak dipengaruhi oleh maksud penggunaannya. Pada hari Natal warna bunga yang disukai didominasi oleh warna putih; pada hari Imlek disukai warna merah, pink dan ungu; untuk keperluan ulang tahun banyak digunakan warna lembut, seperti putih, pink, ungu, sedangkan untuk menyatakan belasungkawa umumnya digunakan warna kuning dan ungu.

Konsumen pasar dalam negeri adalah penggemar dan pecinta anggrek, pedagang keliling, pedagang pada kios di tempat-tempat tertentu dalam kota, perhotelan, perkantoran, gedung-gedung pertemuan, pengusaha pertamanan, toko bunga, florist, pesta-pesta dan perkawinan. Jenis-jenis anggrek yang banyak diminta pasar adalah Vanda Douglas, Dendrobium dan Golden Shower. Permintaan anggrek dalam negeri, selain dipenuhi oleh produksi dalam negeri juga dari produk impor untuk jenis-jenis tertentu, seperti Phalaenopsis, dan Dendrobium.

Berdasarkan arahan Pusat penelitian Tanah dan Agroklimat ditentukan areal pertumbuhan komoditas anggrek di Sumatera Utara 20 ha, DKI Jakarta 51,8 ha, Jawa Barat 60 ha, Jawa Timur 100 ha, Kalimantan Timur 51,7 ha, Sulawesi Selatan 3,6 ha, dan Papua 99,4 ha. Anggrek dapat ditanam dalam kondisi lahan apapun, karena anggrek tidak memerlukan media tumbuh tanah. Yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha anggrek terutama adalah kualitas dan pH air. Dalam pengembangan anggrek, berbagai tahapan strategis dilakukan mulai dari penyusunan paket teknologi dan SOP, GAP, standarisasi; sosialisasi dan bimbingan SOP dan GAP; bimbingan manajemen mutu dan pasca panen; pengembangan kawasan sentra; kelembagaan usaha dan kemitraan; peningkatan SDM sampai regulasi investasi dan promosi.

Pada perdagangan internasional sebenarnya tidak ada aturan baku mengenai standar mutu, standar mutu lebih tergantung pada importir dari negara tujuan ekspor. Negara-negara tujuan ekspor memberikan syarat harus bebas dari OPT baik berupa hama, penyakit, maupun gulma. Importir menghendaki standar mutu/grade tertentu yang lebih dikaitkan dengan harga.

Sasaran periode tahun 2005 - 2010 adalah (1) tersedianya produk anggrek sebanyak 75.192.000 tangkai dan 16.166.628 pot pada tahun 2005 menjadi 89.692.000 tangkai dan 19.284.219 pot tahun 2010 sesuai standar mutu pasar domestik dan internasional (2) tersedianya sentra anggrek 187.98 ha pada tahun 2005 menjadi 224.23 ha pada tahun 2010.

Program pengembangan tanaman anggrek adalah (1) penyediaan varietas unggulan spesifik lokasi dibarengi dengan perbanyakan benih secara mericlonal untuk mendapatkan tanaman seragam, (2) penerapan SOP berbasis GAP, (3) Pengembangan kawasan sentra produksi berbasis pasar dan potensi daerah, (4) peningkatan kualitas SDM, (5) pengembangan kelembagaan on farm dan off farm dalam pola koperasi, korporasi manajemen dan konsorsium, (6) pengembangan jejaring dan jaringan kerja di dalam dan luar negeri, (7) Pengembangan sisteminformasi, (8) Penataan data base dan penyusunan profil tanaman anggrek, (9) Promosi peluang usaha agribisnis anggrek.

Industri hulu perbenihan dilakukan hanya di pusat agribisnis anggrek DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Utara dan Sulawasi Selatan. Produk industri anggrek adalah bunga segar, industri hilir kurang berkembang, packing untuk ekspor hingga saat ini masih dilakukan oleh eksportir. Industri yang dikembangkan adalah anggrek bunga potong dan tanaman pot berbunga. Industri anggrek di Indonesia mempunyai berbagai skala usaha yaitu (1) UKM anggrek potong dengan skala usaha 1000 - 2500 m2 dan diperkirakan dapat menghasilkan 10.000 - 25.000 tangkai bunga; (2) usaha anggrek potong skala besar, dengan skala usaha 3000 m2 hingga lebih dari 1 ha, yang dapat menghasilkan bunga antara 30.000 sampai 100.000 tangkai; (3) usaha tanaman pot berbunga kecil menengah, dengan skala usaha 1000 - 25000 m2.

Dalam pengembangan industri anggrek dibutuhkan investasi pemerintah dan swasta. Investasi pemerintah dibutuhkan untuk mengembangkan infrastruktur, pembinaan, penelitian dan pengembangan. Untuk kurun waktu 5 tahun (2005 - 2010) diperkirakan kebutuhan dana sebesar Rp. 30 milyar untuk infrastruktur, Rp. 60 milyar untuk pembinaan dan Rp. 60 milyar untuk R & D. Sedangkan investasi yang dibutuhkan untuk industri swasta besar adalah Rp. 397,233 milyar. Laboratorium perbenihan membutuhkan investasi Rp. 7,56 milyar, usaha ini dilakukan oleh pemerintah atau usaha swasta besar.

Sasaran pengembangan diutamakan untuk peningkatan ekspor, sehingga diperlukan investasi besar dari swasta. Pengembangan ditingkat petani/komunitas dibutuhkan investasi sebesar Rp. 1,487 milyar untuk bunga potong dan Rp. 12,456 milyar untuk bunga pot. Bunga pot lebih banyak dikembangkan ditingkat petani/komunitas dengan skala UKM. Dengan pengembangan tersebut, diperkirakan terdapat pertambahan nilai Rp. 960 juta per ha yang diperoleh dari pertambahan nilai ekspor anggrek.

Dalam upaya menarik investasi dan pengembangan anggrek, dibutuhkan berbagai dukungan kebijakan, antara lain: kemudahan perijinan termasuk CITES, keringanan pajak, kemudahan cargo dan transportasi udara, penyediaan pendingin di bandara, kemudahan ekspor, pembebasan bea masuk untuk alat dan bahan-bahan kimia yang digunakan untuk pengembangan agribisnis anggrek dan membangun sistem kemitraan.

Komentar :

Anggrek merupakan tanaman yang memiliki pesona yang menarik karena memiliki bunga yang sangat indah. Oleh karena itu beberapa negara menobatkan bunga anggrek sebagai bunga kebanggaan. Perdagangan bunga anggrek merupakan sumber devisa. Di Thailand anggrek menyumbangkan devisa cukup besar. Di Eropa dan benua lainnya anggrek sebagai bahan minyak wangi dan rambut. Indonesia memiliki iklim tropis sehingga cocok dalam pengembangan dan budidaya tanaman anggrek, baik untuk anggrek epifit maupun jenis anggrek tanah.

Pengembangan anggrek dapat ditingkat dengan penggunakan varietas unggul melalui program pemulian tanaman secara bertahap. Selain itu dapat dilakukan penanaman secara off farm agar permintaan pasar untuk kebutuhan anggrek dapat terpenuhi. Pengembangan kualitas SDM hendaknya dapat selalu ditingkatkan karena dapat memunculkan ide baru dalam melakukan inovasi-inovasi dan peningkatan manajemen dan jaringan kerja. Hubungan yang baik antara investor, pemerintah dan masyarakat agar dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam peningkatan kualitas agibisnis tanaman anggrek.

Feature

SYARAT TUMBUH TANAMAN KOPI

FEATURE

Secara ekonomis pertumbuhan dan produksi tanaman kopi sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan tanah. Setelah persyaratan tersebut dapat dipenuhi beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah pemeliharaan, seperti : pemupukan, pemangkasan, pohon peneduh (naungan) serta pemberantasan hama dan penyakit. Setiap jenis kopi yang berbeda memiliki syarat tumbuh yang berbeda pula. Syarat tumbuh yang utama dalam penanaman kopi adalah tanah dan iklim.

1. Tanah

Sehubungan dengan tanah, yang penting untuk dipelajari adalah :

  1. Sifat fisik tanah

Sifat fisik tanah meliputi tekstur, struktur, air dan udara di dalam tanah. Tanah yang digunakan untuk menanam kopi berbeda-bedas sesuai dengan dari asal tanaman kopi tersebut. Pada umumnya tanaman kopi menghendaki tanah yang lapisan atasnya dalam, gembur, subur, banyak mengandung humus dan permeable (tekstur tanah harus baik). Tanah yang struktur/teksturnya baik adalah tanah yang berasal dari abu gunung berapi atau cukup mengandung pasir. Tanah ini menyebabkan pergiliran udara dan air dalam tanah berjalan dengan lancar. Tanah untuk menanam kopi tidak menghendaki air tanah yang dangkal dan kedalaman air tanah sekurang-kurangnya adalah 3 M dari permukaan. Hal ini dikarenakan air tanah yang dangkal dapat menyebabkan terjadinya pembusukan akar. Tanah yang memiliki drainase kurang baik dan liat berat kurang cocok untuk menanam kopi, karena akar tanaman kopi mempunyai kebutuhan oksigen yang tinggi sehingga selain akan sulit ditembus oleh akar, peredaran air dan udara juga menjadi terganggu (tidak lancar).

Tanah pasir berat juga kurang baik untuk menanam kopi. Tanah ini memiliki kelembaban yang rendah dan kurang dapat mengikat air. Selain itu, tanah pasir berat juga kurang mengandung N yang sangat dibutuhkan tanaman kopi terutama untuk pertumbuhan vegetatif.

  1. Sifat kimia tanah

Tanaman kopi memerlukan tanah yang dalam, gembur dan banyak mengandung humus. Hal ini sangat berkaitan dengan sifat kimia tanah. Tanah yang subur berarti mengandung banyak zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan berproduksi.

Tanaman kopi menghendaki reaksi tanah yang agak asam dengan pH 5,5-6,5. Tetapi hasil yang baik sering diperoleh pada tanah yang lebih asam, dengan catatan keadaan fisiknya baik, dengan daun-daun cukup ion Ca ++ untuk fisiolologi zat makanan dengan jumlah makanan tanaman yang cukup. Pada tanah yang bereaksi asam dapat dinetralkan dengan pengapuran (penambahan kapur tohor) atau yang lebih tepat diberikan untuk pupuk, misalnya dengan pemberian serbuk tulang / Ca- (PO2)
+ Calsium metaphosphat / Ca (PO2).

Pada umumnya tanah yang lebih asam memiliki kandungan mineral yang lebih rendah. Walaupun syarat-syarat yang berhubungan dengan tanah itu dapat dipenuhi dengan baik, tetapi juga perlu memperhatikan faktor lain terutama iklim.

2. Iklim

Faktor iklim memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kopi. Faktor iklim mencakup :

a. Daerah penyebaran, tinggi tempat, suhu

Kopi adalah jenis tanaman tropis dan subtropis yang membentang di sekitar equator dan dapat hidup pada dataran rendah sampai dataran tinggi. Penyebaran kopi ini sangat tergantung dari masing-masing jenis kopi.

Kopi Arabika

Kopi arabika tumbuh baik pada dataran tinggi antara 1250-1850 m dpl dengan suhu 17-21o C. Tanaman ini banyak terdapat di Ethiopia pada garis lintang belahan utara 6 - 9o sampai daerah subtropis 24o pada garis lintang belahan Selatan, misalnya di Panama sebelah Utara dan Brasilia. Jenis ini juga dapat ditanam di dataran yang lebih rendah maupun lebih tinggi, akan tetapi produktivitasnya akan berkurang. Penanaman kopi di dataran rendah (<>Hemileia vastatrix) dan pada dataran yang lebih tinggi (>1850 m dpl) udara akan terlalu dingin sehingga akan tumbuh vegetatif saja. Di Indonesia tanaman kopi akan tahan terhadap Hemileia vastatrix bila ditanam pada ketinggian 1000-1750 m dpl dan suhu sekitar 16-20o C.

Kopi Robusta

Kopi robusta tidak memerlukan tempat khusus untuk dapat tumbuh dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jenis ini aslinya tumbuh di hutan belantara dengan keadaan tanaman yang sangat padat dan dapat hidup sampai ketinggian 1500 m dpl. Di indonesia (di Jawa) jenis ini tumbuh optimal pada ketinggian 300-700 m dpl, sedangkan di tanah asalnya sampai ketinggian 1200 m dpl. Temperatur yang dikehendaki untuk jenis ini adalah 21-24o C. Adanya musim kering dengan temperatur yang tinggi sangat diperlukan untuk persiapan pembungaan dan pembentukan buah, tetapi untuk mekarnya bunga menghendaki curah hujan secukupnya.

Kopi Liberika

Kopi leberika menghendaki syarat tumbuh yang lebih ringan dibanding dengan kedua jenis di atas. Tanaman ini lebih mudah menyesuaikan diri, dapat tumbuh di dataran rendah, di tempat yang lebih miskin dan iklim yang panas. Letak ketinggian dari permukaan laut menentukan besar kecilnya hujan dan kekuatan pancaran sinar matahari. Semakin tinggi letaknya akan semakin banyak hujan, tetapi jumlah pancaran sinar matahari semakin berkurang. Kesemuanya akan berpengaruh terhadap perkembangan bunga dan pembentukan buah.

b. Curah hujan dalam satu tahun

Pengaruh curah hujan pada tanaman kopi yang paling penting adalah pemerataan atau pembagian curah hujan dalam masa satu tahun. Batas minimal dalam satu tahun sekitar 1000-2000 mm, sedangkan yang optimal sekitar 1750-2500 mm. Di Indonesia curah hujan mencapai 2500-3500 mm. Curah hujan yang melampaui batas ini akan menimbulkan masalah bila letak daerah ini semakin tinggi mengingat musim keringnya sangat pendek. Musim kering yang agak panjang sangat diperlukan untuk memperoleh produksi yang tinggi. Kopi robusta menghendaki musim kemarau yang berlangsung 3-4 bulan, akan tetapi pada waktu itu sering terdapat hujan yang cukup (minimal 80 mm tiap bulan) dengan frekuensi 2 atau 3 kali.

Tanaman kopi memerlukan musim kering maksimal 1,5 bulan sebelum masa berbunga lebat dan setelah berbunga lebat masa kering maksimal adalah 2 minggu. Sehubungan dengan keadaan hujan musim kemarau, maka daerah-daerah membedakan antara “daerah basah” dan “daerah kering”. Di daerah kering, pertengahan musim hujan berakhir pada bulan Maret biasanya bulan April curah hujan sudah mulai berkurang dan pada bulan Juni-Agustus adalah kemarau sangat kering. Curah hujan mulai meningkat lagi pada bulan November (permulaan musim hujan mendatang). Di daerah basah, curah hujan dan jumlah hujan lebih tinggi dari daerah kering.

c. Angin

Tanaman kopi tidak tahan terhadap angin yang terlalu kencang, terutama pada saat musim kemarau. Angin akan mempertinggi penguapan air pada permukaan tanah. Selain itu angin juga dapat mematahkan dan merebahkan pohon pelindung yang tinggi sehingga dapat merusakkan tanaman di bawahnya. Untuk mengurangi goncangan angin di tepi-tepi perkebunan dapat ditanami pohon penahan angin.

d. Pengaruh iklim terhadap produksi tanaman

Iklim sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman kopi. Pengaruh iklim mulai nampak sejak cabang-cabang primer akan berbunga. Hal ini akan terus terasa pada saat bunga membuka sampai dengan berlangsungnya penyerbukan, pertumbuhan buah muda sampai menjadi tua dan masak.

Menjelang musim kemarau pada umumnya cuaca mulai terang, udara tidak berawan. Karena hujan sudah mulai berkurang, berarti penyinaran matahari akan semakin banyak dan suhu akan meningkat. Cabang-cabang primer (plagiotrop) yang sudah dewasa mulai mempersiapkan pertumbuhan bunga. Banyak atau lamanya penyinaran merupakan stimulan bagi besar kecilnya persiapan pembungaan. Oleh karena itu semakin banyak penyinaran, maka persiapan pembentukan bunga pun akan semakin cepat. Sebaliknya bila penyinaran berkurang, persiapan pembentukan bunga menjadi lambat dan jumlah bunga juga rendah.


F